Skip to main content

Posts

Di Bawah Tapak Langit

Sebuah Perjalanan di Bawah Langit Depok hingga Bandung  Petang itu 30 Desember 2013, saat cuaca kurang bersahabat karena dari sore hujan datang dan memabasahi tapak kaki di Bumi. Saya dan Fajar tetap berniat melangkahkan kaki ini untuk sebuah perjalanan yang bagi orang-orang mungkin aneh dan tak wajar. Kami akan berjalan dari Depok ke Bandung di akhir tahun ini. Sebuah perjalanan yang kurang lebihnya kami atasnamakan “misi keadilan”. Rencana semula perjalanan ini akan diikuti tiga orang, sekarang ini harus siap berdua saja karena teman kami yang sedianya ikut harus bertemu dengan keluarganya yang sudah lama tidak bertemu dan mengunjunginya. Walaupun hanya berdua kami tidak kehilangan asa dan semangat untuk tetap melanjutkan misi ini “Keadilan” di tahun baru 2014 yang lebih baik. Tapi saat kami tetap berniat jalan kaki walaupun hanya dua orang, alhamdulillah ada teman kami yang tiba-tiba bersedia ikut untuk mengadakan perjalanan ini dia adalah Muzayin anggota teman kami PMII...

3 Hari Memebelah Jawa Tengah

Pagi itu 15 Agustus 2013 aku yang sudah memiliki janji dengan sahabat ku yang bernama Khoiron Anwar (lulusan Fisika FMIPA UI 2013) berencana mendatanagi seorang sahabat kami yang bernama “Puteri” di wilayah Purbalingga. Laju bus mengantarkan saya ke Terminal Tegal sebagai  lokasi pertemuan kami, saya sendiri berasal dari Pemalang dan sahabatku berasal dari  Brebes. Kita adalah teman kampus di Universitas Indonesia yang saat ini sedang mendapat libur semester dan hari raya idul fitri. Perjalanan sempat mengalami kendala karena bis yang saya naiki bukan tujuan Tegal tetapi tujuan Purwokerto, merasa di tipu kernet saya pun turun di dekat Pemalang kota untuk mencari bis jurusan Tegal dan ternyata saya mendapatkannya hingga akhirnya sampailah ke destinasi yang diharapkan yakni di Mushola Terminal Tegal. Awalnya sempat bingung untuk menuju ke Purbalingga, apakah lewat Bumiayu ataukah lewat Pemalang sehingga harus putar balik kembali perjalanan yang sudah saya lalui dari Pemalang...

Runtuhnya Kembali Majapahit

Runtuhnya Kembali Majapahit Oleh Akbar Priyono Kebudayaan dan peradaban adalah hal-hal yang sulit dipisahkan baik secara pengertian maupun secara bentuk wujud, esensi, etimologi dan eksistensi. Meskipun secara garis tegas kebudayaan dan peradaban memiliki definisi yang memiliki ruang acuan tersendiri. Beberapa pakar lebih meilhat budaya sebagai hasil olah masyarakat yang sifatnya spiritual (nilai), sedangkan peradaban pada konteks hasil kebendaan (alat untuk hidup). Pengertian-pengertian ini hanya sebagai pengantar pembahasan situs Trowulan yang dikabarkan diambang kehancuran akibat berapa faktor. Trowulan yang merupakan ibu kota Majapahit pada masanya sebelum runtuh yang pertama tahun 1400 Saka ( sirna ilang kertaning bumi)/ 1478 M adalah kerajaan maritim raksasa di tanah Jawa bagian Timur, dikagumi kawan maupun lawan. Abad ke-21 ini kita hanya bisa melihatnya dalam bentuk artefak sejarah yang luar biasa kayanya, tapi ada ancaman keruntuhan Majapahit untuk yang kedua kalinya ji...

Mahkamah Kongkalikong

                             Mahkamah Kongkalikong                                    Oleh Akbar Priyono*         Menyikapi kasus penangkapan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentu tidak berbeda jauh dengan sikap semua rakyat yang miris dan sedih mendengarkan berita ini dan menginginkan agar institusi MK dibubarkan ataupun menghukum berat ketua MK. Mahkamah konstitusi yang menjadi muara terkahir sebuah kasus hukum di Indonesia dan ibaratnya adalah malaikat bagi segenap masyarakat tetapi justru menghianati nilai kebenaran yang sepatutnya dijunjung tinggi.                Te...