Skip to main content

Posts

Gunung Slamet: Dalam Jebak Mitos dan Apriori

Sudah lebih setahun rencana ini, tapi selalu terkendala oleh waktu yang tak pas. Meski sejak kecil melihat gunung ini tetapi justru rencana mendaki Slamet selalu dibumbui apriori-apriori yang kadang memberatkan diri untuk ke sini. Mitos-mitos orang tua dan masyrakat di sekitar tempatku kadang membuat nalarku terbawa angin. Namun pada kahir tahun 2015 lalu saya janjian dengan beberapa teman alumni SMA ku. Sekitar tanggal 24-25 Desember kami merencanakan pendakian, tapi di saat saya sudah mempersiapkan diri termasuk fisik yang masih begitu lemah karena dalam pemulihan pasca tipes eh tak taunya harus gagal karena ada tugas tambahan di tempat kerja. Akan ada akreditasi di sekolah tempat saya mengajar pada tanggal 26 Desember sehingga waktu liburpun dibuat untuk lembur agar lebih matang saat tim akreditasi datang. Akhirnya gagal ikut teman-teman ke Slamet, padahal saya yang merencanakan. Tapi dalam keesedihan tersebut ada sedikit angin segar karena teman SMA ku yang bernama Pandu jug...

Terjun di Ciherang, Menanjak di Puncak Batu

Terjun di Ciherang, Menanjak di Puncak Batu Kemarin, Rabu 9 Desember 2015 saya dan teman saya Pak Budi pergi ke Jonggol. Bermula dari sehari sebelumnya ada niatan jalan-jalan karena esoknya di hari rabu ada acara Pilkada serentak se-Indonesia, kami pun berinisiatif mengisi hari libur tersebut untuk jalan-jalan. Awalnya ada banyak destinasi yang menjadi pilihan khususnya pergi ke pantai. Eh, ujung-ujungnya kami memutuskan untuk pergi ke gunung atau air terjun, dengan dalih pantai di Pantura sudah terlalu sering kami kungjungi dan kurang menarik untuk dipandang atas kekotorannya, bukan coklatnya air tapi sampah ataupun kurang terwatnya pantai yang ada. Akhirnya kami memutuskan untuk menuju destinasi air terjun yang ada di Jonggol yakni air terjun Ciherang, meskipun sebenarnya masih ada banyak destinasi air terjun lainnya seperti di Purwakarta dengan Air terjun Cigentisnya. Mungkin sudah terlalu familiarnya Cigentis sehingga kami lebih memilih Ciherang. Kami pun janjian untuk berangk...

Gunung Bongkok: 90 Derajat Kerinduan

Mengapa harus dilepas, bukankah yang terbang takkan kembali kecuali kau memungutnya. Sedangkan kebanyakan dari kita hanya diam. Perjalanan dimulai siang itu 18 April 2015, dari sebuah perumahan di Cikarang Utara saya menuju stasiun Lemah Abang untuk berangkat ke Purwakarta. Sebelumnya sudah berkordinasi dengan kawan-kawan UI yang hendak ikut, Egi dan Kiki. Egi si anak Psikologi sudah biasa mendaki gunung sedangkan Kiki anak keperawatan yang sejak lama ingin diajak naik gunung. Siang itu yang cukup panas namun tetiba saja mendung disusul gerimis, beruntung saya sudah sampai di LA station (sebutan keren untuk stasiun Lemah Abang). Saya sudah sarankan pada mereka untuk berangkat dari Depok menuju stasiun Kota jam 11 agar dapat tiket Kereta Lokal Purwakarta, tapi entah mengapa mereka “ngeyel” tidak datang lebih awal ya akhirnya sampai stasiun Kota sudah pukul 1 siang lebih padahal kereta berangkat pukul 12.45. Akhirnya mereka terlambat dan yang gelisah bukan mereka saja tapi saya ya...

Tuhan Tak Pernah Iseng

Melukis hidup, ya setiap orang akan melukis hidupnya entah dengan tema apa dan warna apa. Kehidupan memiliki beragam versi ada yang penuh perjuangan dan mungkin sekedar mengandalkan warisan. Belum genap setahun dilepas di kehidupan nyata pasca kelulusan dari sebuah universitas, saya menemukan beragam fenomena yang menggugah selera, baik itu tentang orang lain maupun pengalaman bagi diri. Peta misterius kehidupan agaknya tidak cukup dipahami hanya berdasarkan teori atau motivasi-motivasi yang marak di televisi. Ia akan lebih terasa saat kita mampu menghadapi beragam tantangan ataupun pilihan dalam kehidupan. Kok panjang banget ya pengantarnya, yang jelas kita semua pernah dan akan mengalami beragam warna dalam hidup ini dengan bobot yang berbeda tentunya. Dimulai dari seorang satpam yang saya temui di sebuah tempat, ia bercurhat sambil berkaca-kaca matanya. Seorang satpam yang mendatangi saya saat sedang duduk untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya dia menceritakan diriny...

Desing Kereta Kertajaya

Waktu itu.. Awal Januari 2014 di musim penghujan yang penuh ragu bahkan pilu Saat insan banyak berpuisi atas tetes hujan, berkeluh, bersyukur Seorang wanita datang, tanpa firasat, tanpa mimpi, tanpa wahyu Bukan bidadari, bukan peri hutan pinus, atau dewi kahyangan Mengawali takdir, kisah, cerita, satire ini atau entahlah...   Dalam desing roda kereta Kertajaya tujuan akhir Surabaya Keyakinan itu bermula, sebuah keyakinan tanpa dasar matematika Hanya berlandas keyakinan yang dapat ditepis Seperti mendung pertanda hujan akan datang, hanya akan... Pandangan yang terjaga runtuh seketika Hati terkunci, membuka secepatnya Kelopak mata yang kokoh, runtuh dan berkaca-kaca Ini apa? bisik dalam kalbu, pikir tersipu Naluri jatuh cinta, ya aku tahu naluri jatuh cinta.. Tapi tak sewajarnya, tak biasanya.. Lebih dari sekadarnya.. Seolah rasa rindu, rindu berwindu-windu Entah, seolah pernah bertemu di alam mana.. mungkinkah di padang takdir Hingga membuat hati meronta, dan...

Marhaenuisme

Strategi “Marhae-NU-isme” Di dalam sejarahnya Marhaen merupakan nama seorang rakyat jelata yang diabadikan oleh presiden Soekarno sebagai ideologi yang lahir dari alam pikirnya. Ideologi itu bernama Marhaenisme, paham akan kepedulian terhadap rakyat kecil seperti petani, pedagang, dan nelayan. Berbeda dengan konsep proletar ala komunis di Eropa yang mencirikan masyarakat tanpa memiliki alat produksi. Strategi peduli nasib rakyat kecil melalui konsep “Marhaen” menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan di tengah proses pencalonan presiden  yang belangsunng.                                                                        ...