Skip to main content

Posts

Sumpah Pemuda The Generation

Agent Of Primitive Tentu masih terngiang dibenak semua saudara sebangsa dan setanah air, rekan-rekan mahasiswa dan semua masyarakat akan kejadian bentrok fisik antar mahsaiswa UNM (Universitas negeri Malang) yang kemudian berlanjut dengan tewasnya dua korban jiwa dari Mahasiswa. Tindakan yang seringnya kita lihat di adegan film yang menampilkan kehidupan masyarakat primitif telah terjadi secara aktual dan ironinya hal tersebut terjadi di dunia pendidikan, yang lebih memalukannya hal tersebut terjadi di wilayah perguruan tinggi negeri yang tentunya mengususng Tridharma perguruan tinggi dan mendengungkan agent of change. Nilai-nilai kemanusiaan yang sering diteriakkan oleh mahasiswa hanya sebatas awang-awang atau utopia jika melihat kondisi mahasiswa yang labil seperti kajadian di kampus UNM. Morat-maritnya mental pelajar yang dibuktikan dengan rangkaian aksi tawuran pelajar dari sekolah menengah hingga sekolah tinggi menunjukkan belum sempurnyannya pendidikan moralitas di neger...

Coretan Angin

Rakyat Subfersive Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 Oktober 2012, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UI Depok mengadakan diskusi dengan M. Sobary di sebuah Villa di Cisaruah, Bogor. Diskusi yang topiknya bertemakan “Peranan NU Dalam Mengahadapi Kondisi Bangsa Indonesia Sekarang “ membawa si pembicara mengatakan sebuah kata Subfersive yang pengertiannya adalah kritis terhadap suatu hal yang terjadi, khususnya terhadap kebijakan atau sesumbar suatu golongan tertentu, baik itu yang mengatasnamakan rakyat maupun mengatasnamakan pemerintahan maupun golongan tertentu yang bertingkah terlalu subjektif dengan rangsangan ideologi masing-masing yang seringnya justru menciderai kelompoknya sendiri dalam rangka membangun bangsa Indonesia. Cidera-cidera kelompok yang seringnya bertingkah normatif dan tidak relvan serta tidak menggunakan korelasi yang baik pada akhirnya akan merusak orientasi yang paling dalam dari sebuah cita-cita untuk membangun bangsa ke...

Catatan Hijau

Tanggal 15 Sepetember 2012 mengantarkanku pada titik hijau di Cirebon, Munas NU. Musyawarah dan Konferensi besar NU tahun ini bertempat di Pondok Pesantren Kempek Cirebon sebuah Pesantren milik Keluarga Said Agil Siradj (Ketua PBNU). Perjalanan di mulai dari Depok sekitar Mako Brimob Kelapa Dua untuk menuju ke rumah Bapak Ahmad Suady (Wahid Institute). Beliaulah yang akan memberikan tumpangan mobil kepada kami. Kami, ya kami (saya (Universitas Kehidupan) dan bang Baim (lulusan Ilmu Politik UI)) segera saja menuju ke rumah bapak Ahmad Suaedy  yang tidak jauh dari Mako Brimob, tapi kami hanya sebentar saja di kediaman beliau karena kita semua akan menjemput teman yang satu lagi yang bernama Dr. Greg Barton (penulis biografi Gusdur) dari Monash University. Tanggal 15 September sepatutnya saya mengikuti sidang LPJ Kuliah Kerja Nyata di balai Sidang BNI kampus UI tercinta. Mungkin set back nya demikian (saya ajak ke kehidupan 2 bulan yang silam):         ...

Nada Minor Untuk Munir

Nada  Minor Untuk Munir Sudah 8 tahun Munir Said Talib meninggalkan bangsa tercinta ini untuk selama-lamanya. Aktivis dan pembela Hak Asasi Manusia ini meninggal dalam perjalanan ke Belanda karena sebuah Racun mematikan arsenik yang di lakukan oleh pilot Garuda Polly Carpus Budi Hari Prihanto. Kematian yang mendadak terhadap aktivis hak asasi manusia ini sangat mengejutkan semua pihak yang merasa dibelanya. Suara nyaringnya untuk membela kaum tertindas dan mereka yang tak mendapat keadilan dengan layak oleh pihak berwenang menjadikan Munir menjadi sosok yang ditakuti oleh sebagian besar pihak yang takut akan suara nyaringnyas tersebut, mulai dari oknum pemerintahan hingga oknum dari jajaran militer merasakan ketdaknyamanan akan Munir. Hitam putih penegakan HAM di Indonesia memang nyata adanya, dari pelanggaran HAM di Timor Timur sampai Papua ataupun dari Marsinah sampai tragedi 1998 merupakan kasus-kasus besar yang seolah-olah sengaja dilupakan untuk mengusutnya dengan cerda...

Usang 3 (Opini)

         Nobel Suu Kyi, Rohingnya, dan Pancasila Menerima hadiah nobel perdamaian bukanlah akhir dari perjuangan, justru menerimanya sebagai penghargaan bergengsi dan diakui dunia sebagai orang berjasa dalam suatu bidang tentunya harus lebih giat lagi beraksi dan membela apa yang harus di bela. Begitu juga ketika Aung San Suu Kyi menerima hadiah nobel perdamaian tentunya dia harus lebih giat lagi dalam pembelaanya untuk menegakkan perdamaian, hak asasi manusia, dan keadilan di dunia ini khususnya di negeranya sendiri yang memang sedang dilanda krisis HAM seperti apa yang terjadi pada etnis Rohingya di Myanmar. Bukan konflik agama Islam dan Budha, jangan dibawa kasus agama dalam isu penindasan etnis Rohingya di Myanmar. Ini semua adalah tanggung jawab semua umat, dimana minoritas sekali lagi tertindas oleh rezim yang mayoritas. Perlu adanya perhatian khusus dan bukan sekedar aksi unjuk rasa menentang melainkan intervensi langsung melalui diskusi dan pertemua...

Usang (2)

                                                                                                                                                                      ...